Identifikasi Risiko K3 di Konstruksi

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05-PRT-M-2014 menyatakan nilai kekerapan terjadinya risiko K3 Konstruksi yaitu nilai 1 (satu) jarang terjadi dalam kegiatan konstruksi, nilai 2 (dua) kadang-kadang terrjadi dalam kegiatan konstruksi, nilai 3 (tiga) sering terjadi dalam kegiatan konstruksi. Dengan tingkat keparahaan 1 (ringan), 2 (sedang), dan 3 (berat).

Risiko kecelakaan yang umum ditemui dalam proyek konstruksi adalah:

  1. Kecelakaan Jatuh dari ketinggian, seperti pada atap atau tangga memiliki resiko tinggi mengalami kecelakaan.
  2. Alat dan Mesin, pemakaian alat dan mesin di lokasi konstruksi seperti alat berat, pemotong, penjepit bahkan benturan dengan mesin perlu diwaspadai.
  3. Bahan Berbahaya dan Kimia, seperti cat, pelarut, atau asbes dapat mengakibatkan paparan berbahaya bagi pekerja.
  4. Kebakaran dan Ledakan, bahan mudah terbakar meningkatkan risiko kebakaran dan ledakan di lokasi konstruksi
  5. Paparan Debu dan Asap, debu dan asap yang berasal dari pemotongan, pengeboran, atau penggalian.
  6. Peralatan Pelindung Diri (APD), Pemakaian APD yang tidak benar atau tidak memadai dapat meningkatkan risiko cedera dan penyakit.

Konsep Dasar Building Information Modeling (BIM)

Sebagus apapun model yang terlihat, masih ada kemungkinan model tersebut tidak akurat dengan kenyataan. Ini berarti bahwa meskipun model konstruksi mungkin terlihat sempurna, kondisi di lapanganlah yang pada akhirnya akan memverifikasinya. Di sinilah peran BIM. BIM membantu menghilangkan kekurangan pada model – kekurangan seperti potensi benturan antara kabel listrik, pipa saluran pembuangan, dll.

BIM membantu mengekstrak atau mengekspor informasi material dari jenis material yang dibutuhkan, kualitas, kuantitas, dan panjang, semuanya dari model 3D.Ini juga membantu menentukan estimasi biaya secara akurat.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa hampir 75% perusahaan konstruksi yang memanfaatkan BIM telah mengalami penghematan biaya yang besar. Misalnya, dengan meninjau proyek pada tahap awal, mereka dapat mengurangi jumlah bahan bangunan yang tidak terpakai dan menghindari pemborosan. Banyak juga yang menemukan bahwa BIM juga membantu mengurangi biaya tenaga kerja.

Penerapan Building Information Modeling (BIM) dalam pengelolaan risiko K3 di industri konstruksi

Tidak hanya fokus terhadap struktural, BIM juga membawa manfaat yang signifikan dalam pengeloalaan risiko K3 di proyek konstruksi. Meskipun penting untuk membangun, Kita juga harus membangun dengan aman. Sebelum terjun ke proyek bangunan apa pun, keselamatan para pekerja harus selalu diutamakan. BIM juga dapat membantu dalam keselamatan dan kesehatan kerja. Sebelum melakukan tugas yang sulit, analisis risiko dan keselamatan kerja (JSA) umumnya diperlukan. Berikut beberapa manfaat BIM dibidang K3 konstruksi:

  1. Mengidentifikasi Risiko Awal

 BIM memungkinkan untuk mengidentifikasi risiko K3 potensial sebelum fisik konstruksi dimulai. Dengan model 3D yang rinci memungkinkan pemahaman yang baik tentang lingkungan kerja dan potensi bahayanya.

  1. Simulasi Keselamatan

Melakukan simulasi keselamatan di lingkungan virtual dengan menggunakan BIM sebelum menghadapinya di dunia nyata.

  1. Pelatihan Virtual

BIM dapat digunakan sebagai media pelatihan virtual pekerja dalam situasi risiko yang potensial. Pekerja dapat berlatih menghadapi bahaya dengan aman dan efektif dalam lingkungan virtual sebelum menghadapi secara nyata.

  1. Visualisasi yang Lebih Baik

Model BIM dapat membantu memvisualisasikan proyek, sehingga membantu pemahaman bahaya potensial di lokasi proyek.

  1. Dokumentasi yang Lebih Baik

 BIM menciptakan dokumentasi digital yang kaya tentang seluruh proyek konstruksi. Ini dapat digunakan untuk memeriksa dan melacak masalah K3 seiring waktu, yang memungkinkan pemangku kepentingan untuk melakukan perbaikan.

  1. Pengurangan Risiko Finansial

Dengan mengidentifikasi risiko K3 lebih awal dan menerapkan tindakan pencegahan yang sesuai, BIM membantu mengurangi risiko finansial yang terkait dengan cedera pekerja dan keterlambatan proyek.

Terlepas dari manfaat yang telah ditunjukkan, masih ada beberapa tantangan BIM yang terus menghambat adopsi dan implementasi BIM yang lebih luas. Banyak perusahaan kecil yang khawatir untuk beralih ke proses BIM secara keseluruhan.

Pada tahun 2014, National Building Specification menguraikan lima alasan manajerial utama mengapa organisasi belum beralih ke BIM (Lymath, 2014).

  1. Permintaan klien
  2. Relevansi
  3. Biaya
  4. Ukuran proyek
  5. Keterampilan internal

Langkah-langkah awal untuk mengadopsi Building Information Modeling (BIM) dalam K3

Mengadopsi Building Information Modeling (BIM) dalam pengelolaan risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di industri konstruksi memerlukan persiapan dan perencanaan yang baik. Berikut adalah beberapa langkah-langkah awal yang dapat membantu organisasi atau proyek konstruksi dalam proses adopsi BIM dalam K3:

  1. Penilaian Kebutuhan dan Kesadaran
  • Evaluasi apakah penggunaan BIM akan memberikan manfaat signifikan dalam meningkatkan K3 dalam proyek Anda.
  •  Tingkatkan kesadaran dan pemahaman di antara tim proyek tentang manfaat BIM dalam K3.
  1. Pendidikan dan Pelatihan
  • Sedikan pelatihan dan pendidikan bagi tim Anda, termasuk manajer proyek, insinyur, dan pekerja konstruksi, untuk memahami konsep dasar BIM dan bagaimana menggunakannya dalam konteks K3
  1. Identifikasi Risiko K3
  • Identifikasi risiko K3 yang spesifik untuk proyek konstruksi Anda. Fokus pada risiko yang mungkin dapat diatasi atau dikurangi dengan penggunaan BIM.
  1. Pemilihan Perangkat Lunak BIM
  • Pilih perangkat lunak BIM yang sesuai dengan kebutuhan proyek dan kompatibel dengan sistem yang ada.
  • Pastikan tim Anda terlatih dalam penggunaan perangkat lunak ini.
  1. Pengembangan Pedoman dan Prosedur
  • Buat pedoman dan prosedur internal yang jelas tentang bagaimana BIM akan digunakan dalam konteks K3.
  • Tetapkan peran dan tanggung jawab yang jelas untuk anggota tim terkait K3.
  1. Penerapan pada Tahap Perencanaan
  • Gunakan BIM sejak awal dalam tahap perencanaan proyek. Ini mencakup perencanaan layout proyek, pemilihan material, dan identifikasi risiko K3 awal.
  1. Simulasi Keselamatan
  • Gunakan BIM untuk melakukan simulasi keselamatan virtual yang membantu mengidentifikasi dan mengatasi potensi bahaya sebelum mereka terjadi di dunia nyata.
  1. Pemantauan dan Evaluasi Berkala
  • Selama proyek berlangsung, lakukan pemantauan dan evaluasi berkala terhadap efektivitas penggunaan BIM dalam K3.
  • Terapkan perbaikan dan tindakan koreksi jika diperlukan.

Mengadopsi BIM dalam K3 memerlukan komitmen, pelatihan, dan koordinasi yang baik. Dengan mengikuti langkah-langkah ini, organisasi atau proyek konstruksi dapat memanfaatkan potensi BIM dalam meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja.

PT Trainers Management Indonesia

Trainers Management Indonesia adalah perusahaan yang berbadan hukum berdasarkan akta notaris EVA KURNIASIH S.H, M.kn, No. 21 tanggal 23 November 2017 serta keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHAU.0053771. AH 01.01 Tahun 2017.
Trainers Management Indonesia secara berkelanjutan terus menyelenggarakan pelatihan dan pembinaan Bersertifikasi (KEMENAKER RI) maupun Non Sertifikasi (SOFTSKILL) yang berlokasi di wilayah Cikarang, Bandung dan Medan.

On MAP

Mari Berdiskusi .

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Leading Training & Coaching Provider In Indonesia With National & International

Call Us

Marketing Cikarang

Marketing Medan

Operasional

Costumer Service

Company

About Us

Projects

Team Member

Contact

021-089916788

tmi.update@gmail.com

© 2023.Presented By Digital Marketing PT Trainers Management Indonesia